Umumnya manusia hanya berpikir
secara singkat tentang apa yang kemudian ia lakukan. Sebuah kata-kata yang
muncul dapat dijadikan sugesti untuk menarik kekayaan. Caranya? Mudah saja.
Jika orang kaya suka membelanjakan hartanya untuk disumbangkan kepada mereka
yang membutuhkan, maka lakukan lah hal itu juga. Jika mereka lebih suka makan
bersama anak-anak yatim, mengapa Anda tidak mencoba untuk melakukannya juga?
Jika kebanyakan orang kaya yang dermawan selalu menyisihkan pendapatannya untuk
yang membutuhkan, mengapa Anda hanya diam dan hanya menjadi penonton saja?
Istilah menjadi kaya
bukan hanya kaya akan harta yang dimilikinya. Sejatinya, 2,5 % pendapatan yang
kita dapatkan adalah hak mereka yang membutuhkan. Jika hak-hak tersebut tidak
sampai kepada pemiliknya, apa yang akan terjadi? Sama saja kita telah memakan
makanan yang haram. Karena 2,5 % dari pendapatan kita bukanlah milik kita
seutuhnya.
Islam selalu mengajarkan hal yang
baik dan melarang hal yang membawa madlarat
bagi umatnya. Dalam hukumnya yang harus menyisihkan 2,5 % tersebut memiliki
makna sebagai penyucian harta.
Ada sebuah pertanyaan yang membuat
saya merasa miris. Mengapa Allah SWT menakdirkan seseorang ada yang miskin dan
ada yang kaya? Mengapa semua orang di bumi ini tidak ditakdirkan menjadi kaya
saja? Toh kalau semua orang kaya tidak akan ada pengemis, gelandangan dan orang
yang mati karena kelaparan.
Semua orang berhak menanyakan
sesuatu. Allah SWT menciptakan sesuatu tidak ada yang sia-sia. Begitu pun
dengan Allah SWT tidak menciptakan semua manusia dalam keadaan kaya.
Hakikatnya, keberadaan orang-orang miskin adalah sebagai ujian bagi orang kaya.
Sejauh mana orang-orang kaya tersebut mampu menjalankan apa yang telah diperintahkan
oleh Allah SWT.
Harta adalah sebuah ujian yang
diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. Allah SWT berfirman, “Dan sungguh akan
Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan
harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang
yang sabar” (Al-Baqarah, 2: 155).
Mengapa masih ada yang miskin?
Padahal Allah SWT maha kaya. Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan, mengapa
masih ada orang yang berambut gondrong? Padahal tukang cukur sudah tersebar di
mana-mana. Sama bukan? sejatinya, yang salah bukan tukang cukurnya. Melainkan
orang yang gondrong tersebut tidak mau datang kepada si tukang cukur untuk
mencukur rambutnya.
Kemiskinan tidak dapat dijadikan
alasan seseorang untuk membenci Tuhannya. Jika ia menyalahkan takdir, mengapa
dia tidak mencoba mendekatkan diri kepada Allah dan berdo’a? Bukan kah do’a
dapat merubah takdir?
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada
yang dapat menolak takdir (ketentuan Allah) kecuali do’a dan tidak ada yang
dapat menambah umur kecuali berbuat kebaikan” (HR Tirmidzi dalam kitab
sunannya).
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya
orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
taqwa diantara kami” (QS. Al Hujurat: 13).
Dari ayat di atas sudah sangat
dijelaskan bahwasanya orang yang paling mulia di hadapan Allah SWT bukan lah
dia yang memiliki harta
berlimpah dan derajat yang tinggi. Tetapi kekayaan dan kemuliaan yang
sesungguhnya di mata Allah adalah dia yang paling bertaqwa di antara yang lain.
0 Komentar untuk "Rahasia Mudah Menjadi Kaya"